Rabu, 22 Februari 2012

Alun-Alun Purworejo


Alun-alun merupakan tempat atau ruang terbuka yang bisa digunakan sebagai fasilitas umum. Keberadaan alun-alun sebagai simbol otokrasi Jawa Kuno dengan pola tata kota feodal. Alun-alun akan jadi jantung kota, karena untuk pola tata kota otokrasi Jawa Kuno alun-alun selalu berhadapan dengan kraton, rumah tinggal adipati atau bupati. 

Alun-alun diyakini sebagai simbol kejayaan sebuah negara, kerajaan, kadipaten atau kabupaten. Alun-alun Purworejo merupakan alun-alun kabupaten lama yang cukup luas. Barangkali yang terluas di Jawa Tengah. Luas alun-alun Purworejo enam hektar atau 60.000 meter persegi dengan bentuk segi empat

Baik panjang maupun lebar ukuranya hampir sama.
Ciri khas pola tata kota Jawa Kuno selalu dengan jantung kota berupa sebuah alun-alun dan ditengahnya berdiri pohon beringin. Di tengah alun-alun Purworejo terdapat sepasang pohon beringin yang didatangkan dari Kraton Yogyakarta. Pendopo Kabupaten Purworejo berada di sebelah utara alun-alun menghadap selatan.

Disebelah selatan alun-alun dulu menjadi Kantor Karesidenan bagelen dan kini sebagai Kantor Setda Purworejo. Sebelah barat alun-alun terdapat Masjid Agung atau Masjid Darul Muttaqin. Sementara sisi timur berdiri bangunan Gereja. Semua itu merupakan banguan poko yang sejak berdirinya Kabpaten Purworejo sudah dirancang sedemikian rupa oleh RAA Cokronagoro I.

Pada alun-alun sebelah utara terdapat dua bangunan atau paseban yang berfungsi sebagai tempat beristirahat bagi orang yang ingin menghadap bupati. Sekarang paseban sebelah barat digunakan sebagai kantor KNPI dan sebelah timur untuk kantor KONI. Sejak awal berdirinya Kabupaten Purworejo sampai sekarang pola tata kotanya tidak mengalami perubahan.
Pola tata kota Purworejo masih pola tata Jawa Kuno. 

Pola tersebut mempunyai kekhususan yang sampai sekarang sulit dicari bandingannya. Semua tata letak bangunan semetris. Di belakang Pendopo Kabupaten Purworejo terdapat pula alun-alun kecil yang dulu biasa digunakan untuk latihan Bergodho Jayengsekar atau pasukan pengamanan bupati.

Kini lapangan atau alun-alun kecil tersebut menjadi milik Garnisun dan bisa digunakan untuk kepentingan umum. Seperti diketahui, Purworejo dulu kota administrative yang dengan sendirinya jauh lebih ramai dibanding dengan kota-kota lain yang berada di Karesidenan Bagelen. Namun sejak 1 Agustus 1901 Karesidenan Bagelen terhapus dan kedudukan Purworejo sebagai kota administrative terhapus pula.

Purworejo kemudian menjadi regent atau kabupaten biasa. Meski kedudukan sebagai kota administrative sudah terhapus, namun tetap saja alun-alun dan sebagainya tidak berubah. Alun-alun purworejo kini menjadi ruang publik sehingga siapapun bisa memanfaatkan.

Pembangunan Jalan Purworejo-Magelang



Jalan raya Purworejo-Magelang merupakan salah satu karya besar RAA Cokronagoro I. Jalan dengan panjang lebih kurang 40 kilomater itu sampai sekarang tetap dijadikan jalur utama. Semula jalan Purworejo-Magelang akan dibangun lewat Kaligesing. 

Dari arah Kaligesing menuju Boronudur dan kemudian masuk Magelang. Alasanya, pada waktu itu karena di daerah timur Sungai Bogowonto sudah cukup ramai. Jauh lebih ramai dibanding Purworejo menuju utara lewat Geger Menjangan. Tetapi pembanguan jalan Purworejo-Magelang lewat Kaligesing akhirnya dibatalkan karena ada beberapa persoalan.

Diantaranya, daerah Kaligesing menuju Borobudur harus melewati jalan yang sangat menanjak dan banyak jurang terjal. Selain itu faktor gangguan keamanan juga menjadi salah satu penyebabnya. Pada waktu itu memang masih banyak gerombolan pengacau keamanan yang diduga dilakukan oleh sisa-sia pengikut setia Pangeran Diponegoro. RAA Cokronagoro sendiri pada waktu itu juga agak keberatan bila jalan Purworejo-Magelang lewat Geger Menjangan.

Sebab untuk melewati Geger Menjangan harus mendaki bukit yang cukup tinggi. Sementara sarana transportasi yang ada pada waktu itu hanya dokar dan pedati. Dikhawatirkan baik dokar maupun pedati tidak sanggup melewati bukit Geger Menjangan. Namun demikian, setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya pembangunan jalan tersebut tetap melintasi Geger Menjangan. 

Untuk memperingati pembangunan jalan Purworejo-Magelang dibangun tugu peringatan yang terletak di Desa Bener Krajan, Kecamatan Bener, Purworejo. Tugu peringatan itu dibangun diatas tanah seluas 36 meter persegi. Sayangnya tugu peringatan tersebut kini kondisinya kurang terawat dan semakin tertutup dengan banyaknya pemukiman penduduk. Bentuk bangunan tersebut oblish persegi, dengan tubuh tugu meruncing bagian atas lebih kecil. 

Kaki tugu berbentuk persegi. Pada tubuh tugu terdapat tulisan dengan bahasa Belanda. “Deze weg is daargesteld onder het bestuur der Residen van Bagelen Jonkh JGOS Don Schmidt Auf Altenstadt En R De Filletaz Bousqet En onder mederwerking van Raden Adipati Tjokronegoro Regent van Purworejo In de jarem 1845-1850”. 

Pada tugu bagian atas terdapat tulisan angka 1862. Dengan membaca skripsi yang terdapat  pada tugu peringatan pembangunan jalan Purworejo-Magelang dapat diterjemahkan dan disimpulkan sebagai berikut : “Jalan ini sudah dibangun beberapa tahun lalu, ketika Karesidenan Bagelen diperintah oleh Jonkh JGOS Don Schmidt setelah menugaskan R De Filletaz Bousqet dan jalan dikerjakan oleh Raden Adipati Tjokronegoro Bupati Purworejo pada tahun 1845-1850”. Dari skripsi tersebut maka jelas jalan Purworejo-Magelang dibangun oleh RAA Cokronagoro I tahun 1845-1850. Namun tugu itu sendiri baru dibangun pada tahun 1862.

Masjid Agung Purworejo


Sejak RAA Cokronegoro I menjabat sebagai Bupati Purworejo, pertama kali yang dibangun adalah Masjid Agung Purworejo atau Masjid Jami’ yang sekarang bernama Masjid Darul Muttaqin. Alasan pembangunan Masjid Agung karena RAA Cokronegoro menyadari  jika mayoritas masyarakat Purworejo adalah kaum muslim.

Pembanguan Masjid Agung bersamaan dengan pembuatan alun-alun Purworejo yang luasnya enam hektar. Bersamaan itu pula rumah Katemenggungan Tanggung (Brengkelan) yang sebelumnya di sebelah timur Sungai Bogowonto dipindah ke sebelah utara alun-alun Purworejo. Di tengah alun-alun ditanam dua pohon beringin yang bibitnya diambil dari Kraton Yogyakarta. Di sebelah selatan alun-alun saat itu juga didirikan Kantor Residen Bagelen.

Untuk menghubungkan Pendopo Kabupaten, Kantor Karesiden Bagelen dan Masjid Agung, dibangun pula jalan di seputar alun-alun. Masjid Agung atau Masjid Darul Muttaqim berdiri di atas tanah seluas 8.825 meter persegi. Bangunan utama 21 X 21 meter, sayap kiri kanan 6 X 21 meter, serambi 25 X 21 meter. Hal ini sesuai dengan Laporan Kajian Bangunan Bersejarah tahun 2007 yang dilakukan oleh Bappeda Purworejo. 

Disebutkan, Masjid yang terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Sindurjan atau tepatnya di Jalan Mayjend Sutoyo berdiri di atas tanah milik keluarga Cokronegaran. Soko guru (tiang utama) maupun soko rowo (tiang penyangga) Masjid Agung yang dibangun 1831 tersebut terbuat dari bahan kayu jati pendhowo. Diameter soko guru 200 cm dan tingginya puluhan meter. Masjid Agung Purworejo dibangun dengan gaya arsitektur Jawa, mirip dengan Masjid Agung Kraton Surakarta.

Bentuk bangunan Masjid Agung juga masuk dalam kategori arsitektur Islam Kuno, yaitu bentuk Tajug Lowahan Lambang Teplok (Nama bangunan ini terdapat dalam Serat Kalang yang merupakan buku arsitektur Jawa). Atap Masjid Agung tumpang tiga. Tumpang tiga bermakna, atap pertama disebut sebagai panilih yang mengandung arti syariah. Atap kedua disebut penangkup yang mengandung makna thoriqoh. Atap ketiga, brunjung yang maknanya hakekat. Sedang mahkota masjid mengandung arti ma’rifat. 

Di dalam masjid terdapat papan dengan tulisan Jawa dan Arab. Arti tulisan tersebut jika dibaca : “RAA Cokronagoro Ping I Mas Pateh Cokrojoyo Purworejo : 1762” Tulisan tersebut menunjukkan angka tahun Hijriyah yang jika dihitung dengan tahun Masehi adalah tahun 1834. Tulisan tersebut dapat dibaca oleh setiap orang yang masuk ke dalam masjid melalui serambi depan.

Sampai sekarang  Masjid Agung tetap digunakan tempat beribadah oleh kaum muslim di Purworejo. Pada tahun 1834 Masjid Agung direnovasi. Pekerjaan renovasi dilakukan hari Ahad tanggal 2 bulan Besar tahun Alip 1762 Hijriyah atau 16 April 1834. Saat ini Masjid Agung yang usianya mencapai 177 tahun itu sudah mengalami banyak  perubahan. Bangunan induk sudah menggunakan atap genteng pres. Di atas atap terdapat mustaka yang terbuat dari perunggu dengan hiasan daun kandhaka hutan. 

Masing-masing bagian bawah atap tumpang terdapat boven panil kaca es yang berfungsi sebagai pencahayaan. Atap ditopang oleh empat soko guru dan 12 soko rowo persegi yang dihubungkan dengan balok gantung rangkap. Soko guru di cat warna hijau dengan hiasan gometris lis kuning dan berdiri di atas yoni tanpa cerat sebagai umpak. Keempat yoni mempunyai ukuran yang berbeda. Soko rowo terbuat dari batu bata dan bagian bawah dilapisi keramik warna hijau. Setiap hari Masjid Agung tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Utamanya rombongan wisata relegius yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Bedhug Pendowo


Bedhug Pendhowo dibuat pada tahun 1834 dibawah pengawasan Wedono Jenar Raden Ngabehi Prawironegoro. Bedhug Pendowo terbuat dari pangkal batang pohon jati Pendhowo yang dulu tumbuh di Dukuh Pendhowo, Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi, sekitar 9 kilometer arah selatan Kota Purworejo.

Pangkal batang pohon jati Pendhowo memiliki garis tengah lebih dari dua meter dengan ketinggian pohonya mencapai puluhan meter. Pohon jati Pendhowo berukuran “raksasa” ini usianya sudah ratusan tahun. Desa Bragolan sendiri merupakan tanah kelahiran Raden Ngabehi Singo Wijoyo yang tak lain ayah Cokronegoro I.

Sehingga pada saat menjabat Bupati Purworejo dan ingin membangun masjid serta pendopo kabupaten,  Cokronegoro I menugaskan orang untuk menebang pohon tersebut. Cabang-cabang pohon jati Pendhowo selanjutnya digunakan untuk membangun masjid dan pendopo kabupaten. Sementara pangkal batangnya yang berukuran sangat besar itu digunakan untuk membuat sebuah bedhug.

Begitu besarnya ukuran pangkal batang tersebut sehingga pembuatan bedhug “raksasa” dilakukan ditempat. Pembuatan bedhug memakan waktu sekitar tujuh bulan. Prosesnya, setelah batang kayu dikupas, bagian dalam pangkal batang dibakar dengan arang kayu asam. Sebab hanya arang kayu asam saja yang dapat dan mampu menembus kayu jati berusia ratusan tahun.

Untuk menembus batang kayu membutuhkan waktu pembakaran sekitar tiga bulan. Setelah tembus kemudian dirapikan dengan tatah dan membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Setelah bedhug jadi, muncul persoalan baru, yakni bagaimana cara mengangkut bedhug tersebut ke Masjid Agung di Purworejo. Apalagi pada waktu itu sarana transportasi masih sangat terbatas ditambah kondisi jalan tidak semulus seperti sekarang ini.

Belum lagi ukuran bedhug Pendhowo yang luar biasa besar. Panjang bedhug 292 cm, lingkaran bagian depan 601 cm, lingkaran belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm dan diameter bagian belakang 180 cm. Akhirnya bupati mengadakan sayembara barang siapa mampu membawa bedhug Pendhowo dari Desa Bragolan ke Masjid Agung akan diberi hadiah yang layak. Setelah beberapa lama berlalu akhirnya ada orang yang sanggup membawa bedhug tersebut. 

Orang itu adalah Kiai Irsyad, seorang ulama besar dari Desa Solotiang, Loano. Namun demikian Kiai Irsyad tidak sendirian dalam memboyong bedhug tersebut, melainkan dibantu oleh puluhan orang. Metode yang digunakan Kiai Irsyad dalam mengangkut bedhug tersebut cukup unik dan cerdas. Yaitu dengan menaruh gelondongan –gelondongan kayu kecil dibawah bedhug. 

Setiap gelondongan kayu kecil yang sudah terlewati bedhug akan ditaruh didepan sehingga akan sambung menyambung layaknya roda-roda kecil. Mengingat besarnya bedhug, Kiai Irsyad mendirikan 20 pos peristirahatan. Setiap hari pengangkutan harus mampu mencapai satu pos yang berjarak sekitar 500 meter.

Setiap berhenti pada pos peristirahatan para pekerja akan dihibur oleh kesenian tayub dan penari wanita atau teledhek. Karena itu, cerita yang berkembang di masyarakat pada waktu itu mengibaratkan bedhug tersebut ditarik oleh selendang penari tayub. Demikian seterusnya hingga perjalanan itu sampai ke Purworejo. Untuk pengangkutan bedhug tersebut dibutuhkan waktu sekitar 21 hari. Agar awet dan bertahan lama , Bedhug  Pendhowo menggunakan kulit banteng dari Desa Sucen persembahan dari Glondhong Jayeng Kewuh yang tak lain teman seperjuangan Cokronegoro I. Untuk menambah gaung suara, di dalam Bedhug Pendhowo digantungkan gong.

Supaya tidak cepat rusak, Bedhug Pendhowo hanya ditabuh pada hari Jum’at atau perayaan keagamaan Islam. Hingga kini Bedhug Pendhowo merupakan salah satu aset wisata relegius yang tidak pernah sepi dikunjungi wisatawan. Sampai sekarang Bedhug Pendhowo masih tercatat sebagai bedhug terbesar di Indonesia yang bahanya terbuat dari kayu utuh tanpa sambungan. 

Memang ada bedhug sejenis yang besarnya melebihi Bedhug Pendowo, namun semua menggunakan bahan kayu sambungan. Sehingga ke istimewaanya masih kalah dibanding Bedhug Pendhowo. Bedhug raksasa di Indonesia atau mungkin di dunia hanya ada dua. Seperti ditulis oleh Harian Kompas terbitan 22 Februari 1978, ketika Masjid Istiqlal diresmikan, kutipannya sebagai berikut : 

“Dengan adanya bedhug besar Masjid Istiqlal ini, Indonesia kini memiliki dua buah bedhug raksasa. Sebelumnya, bedhug Masjid Purworejo merupakan bedhug terbesar di Tanah Air. Garis tengahnya hanya berbeda 8 cm. Bedhug Istiqlal 2 meter, sedang Purworejo 1,92 meter yang dibuat kurang lebih satu abad yang lalu”.
 
Bedhug Pendhowo adalah salah satu karya besar RAA Cokronegoro I yang kini diwariskan kepada masyarakat di daerahnya. Meski Cokronegoro I sudah banyak berjasa pada daerahnya, sayang namanya tidak pernah diingat apalagi dihargai.

Pembangunan Saluran Irigasi Kedung Putri


Apapun yang dikatakan orang tentang RAA Cokronagoro I, satu yang pasti karya-karya besar telah dibuat demi daerahnya. Bersamaan dengan pembangunan Masjid Agung Kabupaten Purworejo, jalan sekitar alun-alun, juga dilakukan perbaikan jalan yang menuju Kedhung Kebo. Pada saat itu juga RAA Cokronagoro berniat membangun saluran irigasi dengan memanfaatkan Sungai Bogowonto. 

Gagasan itu muncul setelah melihat petani di daerahnya sering sekali kesulitan air. Saluran air yang mengambil dari Sungai Bogowonto tersebut sampai sekarang dikenal dengan nama Kedhung Putri. Saluran ini mampu mengairi sawah seluas 3.800 hektar. Pembuatan saluran dimulai dari Bukit Geger Menjangan hingga Purworejo.

Karya pembangunan yang sangat fantastik ini dituturkan dalam buku “Kedhung Kebo” (bukan Serat Babad Kedhung Kebo), Naskah KBG Nr 5 Koleksi Bagian Naskah Perpustakaan Nasional di Jakarta (hlm 680-684).
Bagi RAA Cakronagoro yang pada saat mengabdi di Kepatihan Surakarta pernah mendapat tugas menangani irigasi di Ampel, Boyolali, merasa tidak asing lagi dalam bidang keirigasian. (Pieter BR Carey, Babad Diponegoro, An Account of Outbreak of The Java War (1825-1830). (The Surakarta court version of the Babad Diponegoro, 1981 : XXVI). Ide pembangunan saluran irigasi dari Geger Menjangan sampai Purworejo mula-mula dibicarakan dengan Residen Bagelen JWH Smissaert.

Setelah mendapat persetujuan dari Residen Bagelen, RAA Cokronagoro kemudian membuat surat perintah kepada para priyayi untuk menggali tanah guna pembuatan saluran irigasi. Penggalain dimulai dari Desa Panungkulan hingga Gunung Geger Menjangan dan akhirnya masuk Purworejo. Demikianlah pekerjaan raksasa tersebut dimulai. Seluruh pekerjaan tanggungjawabnya diserahkan kepada empat Wedono.

Metodenya mirip “gugur gunung” (gotong royong) atau dengan sistem padat karya. Ke empat wedono setiap hari mengerahkan sekitar 5.000 orang. Dalam buku Kedhung Kebo disebutkan, titi mangsa dimulainya pembangunan saluran irigasi Kedhung Putri jatuh pada Hari Kamis, tanggal 1 Syawal tahun Be 1760 atau tanggal 3 Mei 1832 bertepatan dengan awal musim kemarau.

Pekerjaan pembuatan saluran irigasi tersebut membutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun. Di kiri kanan saluran irigasi tersebut dibuat tanggul selebar dua meter. Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi banjir saat air melimpah tanggul tersebut ditanami rumput. Pada setiap jarak dua kilometer dibuat pembagi air.

Sehingga sawah di sepanjang aliran bisa menerima oncoran dari saluran irigasi tersebut. Untuk mengawasi aliran air tetap teratur mengocori sawah ditugaskan dua orang yang disebut Jagatirta. Orang ini bertugas membagi air di masing-masing bendung.
Sedang untuk merawat tanggul supaya selalu kondisinya terjaga ditunjuk sejumlah orang yang disebut kuli anjir. Baik Jagatirta maupun kuli anjir menerima upah berupa sawah garapan (semacam bengkok) yang diberi langsung oleh bupati. Pada waktu itu ada aturan ternak dilarang keras digembalakan di tanggul saluran. Karena dikhawatirkan ternak-ternak tersebut merusak kondisi tanggul.